Pers dan Oknumnya


Pers dan Oknumnya,

Sisa Renungan Hari Pers ke 62

Oleh : Suharto, SH.

Sebagai sumber berita dan informasi, pers sangat penting dan dibutuhkan. Pentingnya pers di era reformasi saat ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan sebagai alat kontrol. Salah satu diantaranya ialah untuk mengawasi akuntabilitas jalannya pemerintahan agar benar-benar dilaksakan oleh para pejabat yang ada di pusat maupun di daerah. Pejabat publik di lingkungan eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Kontrol dimaksud demi keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. dan demi terciptanya clean goverment and good governance.

hartoko-ardiansyah.jpg

Jika dikaji, artikulasi pers bukan berarti “Press” (alat untuk menekan, pen) dan bukan “Peres” (alat untuk memeras, pen) seperti tulisan H. Agus Riyanto S Sos MM Bupati Tegal dalam dalam artikelnya di sebuah media massa dengan judul Pers, Press dan Peres. Dalam artikel tersebut, H. Agus Riyanto menyindir lewat “dialog” antara Pak Kades atau Pak Kadus yang tidak konsisten mengucap pers. Terkadang bilang pers, lain waktu bilang “press”. Atau lain kesempatan menyebutnya tergesa, sehingga terdengar seperti “peres”. “Ya, jadi wartawan itu tukang pers kan?” plesetan artikulasi pers tersebut diatas mengandung makna pers telah disalah gunakan untuk menekan dan memeras, terbukti masih saja ada oknum wartawan yang melakukan pemerasan melalui pemberitaan di medianya. Jika hal ini tidak terkendali akan berdampak merusak citra pers, karena pers sudah tidak dapat mengemban amanah.

Lain halnya insan pers yang mengedepankan profesionalisme sehingga hasil karya jurnalistiknya menjadi pusat perhatian dan bahkan mampu mempengaruhi opini publik, pengamat pers menilai dalam praktiknya amat sulit melihat pers bisa konsisten menyoroti kebobrokan aparatur pemerintah, karena jika ada masalah khusus maka akan diselesaikan dengan cara negoisasi untuk menyingkirkan “Berita yang tidak diuntungkan” dan “Yang tidak menyenangkan” untuk mewujudkan idealisme memang perlu perjuangan dan pengorbanan. Hari Pers Nasional Ke 62 telah lewat, maka pers di masa depan harus mampu memberdayakan masyarakat dan harus bisa memberdayakan birokrasi. Dengan tetap berpedoman pada kode jurnalistik, sebaiknya pers harus tetap profesional dengan menggunakan standar umum jurnalistik sebagai pegangan agar tidak jatuh kedalam pandangan sempit.

(Suharto, SH. Pengurus Cabang GM FKPPI Kab. Grobogan)

 

 

 

Satu Tanggapan

  1. setuju om, tapi gimana ngilangin pers yang jadi peres.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: