Ayat-ayat Cinta, Sebuah Tinjauan Fenomena dari Satu Kehebohan


ayat-ayatcintathemovie.jpg       ayat-ayatcinta.jpg

Beberapa waktu yang lalu di bioskop-bioskop ibukota dan juga di kota-kota besar seluruh Indonesia beredar Film “Ayat-Ayat Cinta” (AAC) yang cukup mendapat sambutan kehebohan. Penonton yang membeludak sampai antri tiket dan kehabisan karcis menjadi pemandangan biasa di bioskop jika memutar film ini.

Bahasan Forum Keadilan (No.46, 24 Maret 08) : “Selama dua pekan ini, para penonton tanah air disuguhi tontonan yang cukup berbeda. Bukan lagi film hantu (dari hantu suster sampai hantu ambulans), tapi film cinta dengan jalinan ketulusan, keimanan dan rasa ragu.”

Bahasan Tempo (No. 03/XXXVII/10-16Maret08) : “Ayat-ayat Cinta menguasai bioskop Ibu Kota. Film yang bisa membidik ceruk pasar remaja Islam.”

Bahasan Rusdi GoBlog (http://rusdimathari.wordpress.com/2008/03/22/ayat-ayat-monopoli-bioskop/) : “Film Ayat-Ayat Cinta sejak sebulan lalu memang menarik perhatian sebagian publik dalam negeri. Sejak diputar di seluruh jaringan bioskop 21 hampir sebulan lalu, film ini telah menyedot 3 juta pasang mata hanya dalam waktu seminggu. Di Cineplex 21 Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, karcis film itu bahkan sudah habis terjual hingga 25 Maret 2008″

Film yang dibuat rumah produksi MD Entertainment tersebut merupakan adaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy, yang pernah dimuat bersambung di harian Republika. Novel juga ditulis menjadi buku berjudul yang sama, laris manis dicetak berulang kali sampai-sampai penulisnya mengaku mendapatkan royalty lebih dari 1 milyar rupiah dari penerbit buku tersebut.

Mengapa buku novel dan film tersebut menjadi demikian laris? Sebegitu menarik dan baguskah cerita yang disajikan? Atau ada fenomena apa?

Pertama, memang kita telah rindu Ikon tokoh “hero” baru. Akhir 80 dan awal 90-an Bang Nasry Cheppy mensutradarai dan mengejawantahkan “hero” baru itu dalam sosok Si Boy dalam filmnya “Catatan Si Boy” yang laris manis dibuat sekuel beberapa kali. Tokoh idola waktu itu diidolakan “Kaya, Pintar, tetapi Tidak Sombong, Rajin Shalat dan Mengaji.” Idola jaman Kejayaan Orde Baru waktu itu memang demikian apalagi terkenal dengan  idiom hedonis “Muda Foya-foya, Tua Kaya Raya dan Mati Masuk Surga.”

Jaman telah berlalu, keterpurukan bangsa kita di berbagai bidang sampai sekarang mengidolakan satu sosok “hero” baru lain bercirikan “Saleh, Pintar agama, sederhana asal kampung tetapi sekaligus bisa kosmopolit-kota yang gaul.” Satu sosok yang didapatkan pembaca novel dan pemirsa film AAC dalam diri Fahri sang pemeran utama. Idiom “Asal dari kampung tapi rejeki kota” diwakili  sosok presenter katrok   Tukul Arwana dan anak band katrok  Kangen Band mungkin juga bisa dianalogikan dalam fenomena ini.

Kedua, memang kita bangsa sinetron. Kita memang bangsa melankolis yang rindu tetesan airmata dalam sebuah cerita (sindrom dijajah 350 tahun masih ada). Kita rindu orang cakep yang bisa menggaet Indo/Bule (lihat sinetron-sinetron kita isinya memang demikian, bahkan Bapak Wapres kita pernah melontarkan lelucon tersebut untuk fenomena orang-orang asing arab yang senang beristrikan gadis-gadis asal Puncak). Ini mungkin bisa menjelaskan mengapa penulis – sutradara lebih memilih agar Fahri senang dan menikah dengan bule-bule (Aisyah yang Jerman keturunan Turki juga Maria yang keturunan Arab Kristen Koptik) daripada teman mahasiswanya yang anak kyai dari Jawa timur atau Noura yang asli Arab Mesir.

Ketiga, memang kita sedang memerlukan sosok-sosok religius sepert Fahri. Sosok yang mendalami Al Quran luar dalam dan bisa serta berani mengimplementasikannya dalam hal-hal sederhana kehidupan. Dalam hal ini memang pengarang dan sutradara sukses besar.

Ada 2 scene adegan yang cukup menyentuh dalam versi filmnya : 

Hal pertama ketika Fahri dipenjara dan mengalami kegoncangan jiwa diingatkan rekan sesama napi bahwa esensi dari Islam ada dua yaitu Sabar dan Ikhlas, suatu hal yang sekarang banyak sekali hilang dari kita.

Hal kedua ketika Fahri menceritakan kesannya tentang Maria, seorang gadis Arab Kristen Koptik yang hapal ayat Quran dalam Surat Maryam, suatu hal lain yang melambangkan toleransi yang juga banyak hilang dari kita.   

Akhir kata dari semua kehebohan yang ada seperti tulisan Rusdi GoBlog tentang film ini(http://rusdimathari.wordpress.com/2008/03/22/ayat-ayat-monopoli-bioskop/) : “Rumah Produksi MD Pictrures yang memproduksi Ayat-Ayat Cinta, bisa ditebak akan menangguk untung besar dari “meledaknya” film itu. Pihak lain yang bakal kecipratan untung adalah pihak distributor film dan pengelola bioskop 21. Nama yang disebut terakhir memiliki 141 gedung bioskop di seluruh Indonesia, terutama di kota-kota besar. Tak ada perusahaan bioskop di Indonesia yang memiliki jaringan seluas dan sebanyak bioskop 21. Berada di bawah kelompok usaha Subentra Grup, bioskop 21 “didampingi” dengan PT Camila Internusa sebagai perusahaan distributor dan Satria Perkasa sebagai pengelola bioskop.” 

Sampai tulisan ini diturunkan salah satu pemerannya Rianti Cartwright (Aisyah) harus berurusan dengan keimigrasian, dikenakan tuduhan orang asing yang bekerja di Indonesia tanpa ijin. Suatu hal yang seharusnya (kalau serius) dilakukan dari dahulu ketika wajahnya mulai terpampang di MTV Indonesia (GlobalTV, Jakarta) beberapa tahun yang lalu…. Nikmati kehebohan itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: