Partai Besar Kalah dalam PILKADA Jabar dan Sumut, Tanda Masyarakat makin Kritis


Seperti diketahui dalam pilkada (pemilihan kepala daerah) di Jawa Barat dan Sumatera Utara, calon dari partai besar seperti GOLKAR, PDIP, PKB dan Partai Demokrat mengalami kekalahan. Pasangan dari PAN-PKS yaitu Hade (Ahmad Heryawan – Dede Jusuf) Minggu (13/4), memenangi pilkada di Jabar. Sementara pasangan dari PPP-PKS-9 partai kecil yaitu Syampurno (Syamsul Arifin – Gatot Pujo Nugroho) Rabu (16/4) memenangi pilkada di Sumut.

Hasil penelitian dari lembaga-lembaga Survey yang selama ini diyakini cermat – akurat  dalam meramalkan kemenangan pemilihan Kepala Daerah bahkan Pemilihan Presiden sebelumnya, sekali ini tidak terbukti. Alasan apa yang mendasari kekalahan partai-partai besar serta melesetnya ramalan lembaga-lembaga survey tersebut ?

Mengutip Efendi Gazali di Kompas (18/4) mengemukakan 3 hal yaitu : Pertama, sebuah mesin politik solid dengan kantong-kantong suara jelas akan melaju jika berhadapan 2 atau 3 massa yang relatif mengambang. Kedua, faktor terdapatnya calon kedua, ketiga dan seterusnya membuka peluang mesin partai yang solid dengan kerja kader yang militan. Ketiga, dan menurutnya yang terpenting adalah ketika orang capek dengan segala keterpurukan (diistilahkan anter dimana-mana) maka kata-kata pamungkas perubahan, pemimpin baru dan pemimpin muda menjadi daya tarik yang sangat kuat.

Jika analisis Effendi Gazali kita cermati, memang tepat bahwa sekarang menjadi saat dimana masyarakat rindu perubahan yang signifikan. Reformasi sudah berjalan hampir 10 tahun, tetapi gerak gerbongnya tidak berimbas banyak ke rakyat. Presiden sudah berganti 4 kali tetapi keadaan hidup dirasa  malah menjadi makin berat. Kenaikan harga bahan bakar sebagai konsekuensi pengurangan subsidi sudah terjadi hampir 3 tahun lalu, tetapi dampak keterpurukannya masih dirasa kental bahkan sampai sekarang. Belum lagi kelangkaan/mahalnya harga kebutuhan pokok, pengangguran dan kemiskinan yang mengindikasikan dugaan di kalangan rakyat bahwa pemerintah hasil binaan birokrasi sebelumnya tetap sama saja tidak terlalu memikirkan mereka. Sebagian besar rakyat jadi kritis bahkan apatis.

Dalam keadaan ini, calon dari partai militan, yang terlihat bersih, bahkan yang berbeda saja  bisa dan mungkin  menjadi kuda hitam yang mengejutkan menyaingi bahkan mengungguli. Bahwa Partai berbasis kader pun bisa berbicara tanpa dukungan siapa-siapa jika yang lain hanya fokus dagang sapi. Isyarat hasil pilkada DKI Jakarta lalu dimana pasangan Fauzi Bowo-Priyanto yang diusung partai-partai besar hampir-hampir saja kalah dari Adang Dorodjatun-Dani Anwar  yang diusung hanya satu partai… PKS, harusnya menjadi cambuk buat partai-partai besar untuk mawas diri. Sayangnya dalam pilkada di Jabar dan Sumut mereka masih terlena. Terlihat jelas ketidak-cermatan partai-partai besar mempelajari kemungkinan peluang si kuda hitam ini memutar balikkan kemapanan. Mereka lebih fokus terhadap ‘siapa yang saya bawa maju dan apa kompensasi terhadap partai saya dari dia’ dibandingkan menggagas suatu koalisi besar dengan dialog politik yang jelas dan adil. Dalam hal ini yang terjadi bukan pepatah : ‘gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah’ tetapi malah :’gajah bertarung sama gajah, pelanduk dapat daging gajah’ !!

Golongan swing voters atau dulu terkenal dengan sebutan golongan massa mengambang harus mulai dianggap sebagai penentu di setiap pilkada atau pilpres di masa depan. Sifat kritis mereka, pasti akan bergerak memilih calon dari kalangan baru atau tidak memilih sama sekali. Jadi dalam banyak kasus mungkin bisa dianalisis bahwa pemenang sebenarnya pilkada-pilkada tersebut atau mungkin pilpres yang lalu adalah …. golongan putih alias golput.  Dalam keadaan memilih ataupun golput, kecenderungan mereka adalah anti kemapanan sehingga akan merugikan partai-partai besar. Hal ini akan berlanjut terus sampai masa mendatang jika partai-partai besar tidak membuat perubahan strategi yang signifikan.

Hasil lembaga-lembaga survey memang menjadi bias jika dikaitkan dengan fenomena membesarnya kalangan golput. Polling yang disebar mereka menjadi tidak bermakna. Memang analisa menjadi sedikit rancu jika mencermati berapa persen memilih siapa tapi melupakan berapa persen yang tidak memilih siapa-siapa. Belum lagi jika indikasi bahwa hasil perhitungan survey mereka itu hanyalah berdasarkan ‘pesanan‘ partai-partai besar saja adalah benar adanya.

Dalam keadaan ini, jika partai-partai besar tidak mau kecolongan lagi maka mereka harus berpikir lebih keras lagi dan memperhatikan beberapa hal dibawah ini :

  1. Sadar bahwa cara-cara kampanye massal dengan adu iklan-spanduk di mass media dan jalan-jalan besar tidak terlalu berarti jika tidak bisa menyelipkan ide-ide visi-misi yang segar.
  2. Bahwa lembaga-lembaga survey sudah tidak terlalu bisa dipercaya 100%, terutama jika analisa mereka dijadikan untuk strategi pemenengan pemilihan.
  3. Bahwa kampanye terpenting adalah kampanye menyentuh hati nurani rakyat. Rakyat sekarang butuh perubahan, bukan perulangan-perulangan.
  4. Bahwa partai-partai besar tidak boleh merasa kebesaran mereka masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekarang ini.
  5. Bahwa pemilih sekarang terutama kalangan terdidik, pemilih pemula dan kaum menengah perkotaan sangat rindu dengan perubahan. Mereka cenderung muak dengan semua orang yang sudah lama di birokrasi. Suara mereka memang tidak akan pernah signifikan ke salah satu partai, tetapi langkah yang diambil mereka sangat menentukan baik memutuskan memilih seseorang ataupun golput.

Perubahan sudah diminta seluruh rakyat. Partai-partai besar baik mau ataupun tidak akhirnya harus mau menyadarinya. Sebagian dari mereka disadari atau tidak adalah yang menggerakkan reformasi 10 tahun lalu. Tetapi mereka sendiri harus merubah pola berpikir dan taktis-strategi dalam bertindak. Kalau tidak mereka lakukan, siapa tahu di pilkada-pilkada mendatang sampai pilpres pun, kita akan disajikan oleh kejutan-kejutan yang lain. Selamat bagi demokrasi, selamat untuk terkejut ?

(Aristoteles – Staff redaksi, analisis dari berbagai sumber)

Satu Tanggapan

  1. Artikel di Blog ini bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di Infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia.Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!!

    http://www.infogue.com/
    http://www.infogue.com/masalah_politik/partai_besar_kalah_di_pilkada_jabar_dan_sumut/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: