Izin Geledah DPR dan Lembaga Negara Lainnya, Perlukah ?


Seperti diketahui, menyangkut kasus anggota DPR RI, Komisi IV, Al Amin Nasution maka KPK bermaksud menggeledah kantornya di Senayan tersebut. Pro dan kontra akan masalah ini merebak. Ketua DPR, BK DPR bahkan banyak anggota lainnya menyatakan KPK tidak berhak melakukan penggeledahan di kantor DPR RI tanpa ijin (25/4). Bahkan ada anggota DPR yang terhormat dari Fraksi Partai Demokrat, Ahmad Fauzi yang mengusulkan untuk membubarkan saja KPK. Komentar pro datang dari Wapres Jusuf Kalla sendiri yang mengatakan bahwa tak ada di negeri ini yang kebal hukum.

Benarkah apa yang dilakukan KPK sudah melewati batas ? Atau juga apakah yang dilakukan Kalangan DPR terkesan terlalu defensif ?

Pertama kita kedepankan UU no 30/2002 tentang KPK. Dalam hal pemeriksaan memang KPK diminta untuk tidak mengabaikan hak-hak tersangka. Ini berarti dalam proses investigasi, pemeriksaan bahkan penangkapan dan penggeledahan tersangka maka asas praduga tak bersalah harus dikedepankan. Tanpa menjunjung tinggi hal itu memang kesan KPK melebihi batas bisa saja terjadi.

Kegeraman masyarakat yang kental terhadap tetap maraknya korupsi harus juga diperhatikan. Begitu besarnya harapan mereka kepada kinerja KPK menyebabkan lembaga ini memang harus terus bekerja keras tanpa menghiraukan yang dikerjakannya dianggap sensasi atau melebihi batas atau apa. Begitu putus asanya masyarakat terhadap kasus-kasus korupsi membuat kerjanya KPK seperti air di padang tandus, menyegarkan sedikit dahaga. Efek samping dari membludaknya harapan ini adalah kemungkinan terhinggapnya Superman Syndrome yang melanda anggota-anggota KPK sehingga sempat sesaat melupakan asas hukum dasar diatas… praduga tak bersalah.

Lembaga-lembaga negara dibuat dan bekerja semuanya ditujukan untuk kepentingan masyarakat banyak. Masyarakat banyaklah yang menjadi pemegang kedaulatan tertinggi di negeri ini. Saat ini keadilan masyarakat terusik hebat ketika baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif tingkat korupsi sudah demikian parahnya sehingga sangat tidak tepat jika ada lembaga tinggi negara meminta belas kasihan atau kebakaran jenggot dalam hal pemeriksaan dan sebagainya berhubungan kasus korupsi.

Keadaan terusik hebat tersebut ditambah tingkat penghidupan sebagian besar masyarakat cenderung menurun. Belum lagi kecenderungan mereka yang menjabat untuk tidak bisa menahan diri dalam hal kemewahan dan penyalah gunaan fasilitas.

Rakyat atau masyarakat bukan orang-orang yang buta dan pelupa. Mereka mencatat bahwa pelaksana penegakan-penegakan hukum sebelumnya tidak bisa membongkar kasus korupsi-korupsi besar kelas kakap. Banyak yang kasusnya terkesan “dibiarkan” mengambang, banyak juga yang bisa lolos lari keluar negeri.  Disinilah harapan rakyat seperti dikatakan diatas menjadi sangat-sangat besar terhadap KPK, karena lembaga-lembaga penegakan hukum konvensional “macet” dalam hal korupsi.

Penggeledahan adalah hal yang biasa dalam proses penegakan hukum. Itu hanya salah satu proses selain investigasi dan pengintaian dalam upaya pencarian motif, alibi, bukti dan saksi. Kalau masyarakat banyak dalam hal penegakan hukum harus mau digeledah, dimintai keterangan dan menjadi saksi… mengapa anggota-anggota lembaga negara yang terhormat tidak bisa ? Bukankah hukum positif kita menegaskan dengan tegas bahwa prinsip utamanya adalah kesetaraan semua orang dari sudut pandang hukum (equality behind the law ) ? Memang karena setiap lembaga negara punya kode etik pengaturan sendiri-sendiri, maka dalam hal penegakan hukumnya harus ada koordinasi antar lembaga (KPK juga lembaga negara). Tapi kalau koordinasi itu membuat peluang penghilangan barang bukti  menjadi besar, ya memang ijin-ijin tersebut menjadi tidak relevan. 

(Aristoteles, staff redaksi) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: