May Day, PKS dan Milad ke 10 ( 4 Mei 2008 )


Beberapa hari lalu tepatnya 1 Mei 2008 diperingati sebagai. Hari Buruh Sedunia. “The May Day” yang oleh rekan-rekan kita para buruh dan pekerja selalu diperingati dengan meriah di seluruh Indonesia. Di Jakarta Gelora Bung Karno (GBK) menjadi tempat berkumpul Massa Forum Aliansi Pekerja yang merupakan gabungan dari berbagai serikat pekerja. Mereka seperti, Serikat Pekerja Nasional (SPN), Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI), serta Serikat Pekerja Logam Elektronik dan Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SP LEM-SPSI). Di sana diadakan berorasi, berdemo dan berpawai memperjuangkan aspirasinya.

Ada yang sedikit menggelitik dalam peringatan May Day tahun ini, yaitu dukungan yang cukup dominan dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera) kepada para buruh/pekerja untuk memperjuangkan aspirasinya. Di daerah-daerah (lihat gambar) banyak sekali spanduk yang menggambarkan dukungan PKS terhadap perjuangan para buruh/pekerja dan terhadap peringatan Hari Buruh Sedunia (The May Day). Pada puncak acara di GBK, Jakarta tampak pucuk-pucuk pimpinan PKS, tokoh dan simpatisan yang hadir. Bahkan Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR, mantan presiden PKS), Suripto (Wakil Ketua Komisi III DPR dari PKS) dan Ahmad Heryawan (Gubernur terpilih Jabar kader PKS) didaulat untuk memberikan orasi di hadapan Massa Forum Aliansi Pekerja yang menyemut di stadion tersebut.

Bagi mereka yang dibesarkan jaman Orde Baru (1970an-1990an), konotasi May Day adalah suatu peringatan yang “kekiri-kirian” sehingga dekat dengan ideologi sosialisme dan komunisme yang diharamkan di Indonesia. Konotasi ini masih banyak melekat di kalangan umum dan Pemerintah, sehingga Hari Peringatannya selalu diiringi antisipasi penjagaan aparat yang ketat. Walau sejak era Gus Dur, Hari Buruh sudah ditetapkan resmi untuk diperingati, tetapi ketakutan akan ekses demo yang diakibatkannya masih ada sampai sekarang.

Dipihak lain, PKS diyakini oleh umum sebagai Partai yang membawa nilai-nilai Islami yang kental sehingga sangat menentang semua yang berbau “kekiri-kirian” seperti Peringatan May Day dan lain-lainnya. Apakah ada reposisi dalam cara pandang dan kebijakan PKS di masa datang ? Apa implikasinya terhadap keseluruhan kita Bangsa Indonesia ?

Terus terang dari sudut pandang logika manapun, apa yang dilakukan PKS ini sangat-sangat brilyan dan wajar dalam konteks membesarkan partai. Belenggu-belenggu idealisme yang kaku coba untuk dipecahkan. Kekakuan diganti dengan visi baru yang pragmatis. Buruh dan pekerja merupakan populasi yang besar di manapun kota di Indonesia bahkan di dunia. Perjuangan mereka patut diapresiasi dan di beri dukungan yang layak, sebab sebenarnya perjuangan mereka adalah perjuangan menuntut keadilan. Menjauhi mereka karena gap ideologis merupakan suatu kemubaziran, apalagi jika partai ingin bertekad bukan lagi menjadi “Pressure Group” tetapi lebih lagi ingin menjadi “Leading Group” atau bahkan “Rulling Group”, memerintah di Indonesia.

Dalam hal ke-Indonesiaan, apa yang dilakukan PKS adalah positif. Tekad mereka yang secara besar-besaran akan membangkitkan semangat kebangsaan dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional (20 Mei 2008) sudah cukup mengejutkan sekaligus apresiatif. Saat dimana Partai-partai besar lainnya tidak melihat momen ini secara serius, PKS berani mengangkatnya. Mereka yang dianggap “Para Penjaga Kebangsaan dan Pluralisme” seperti Partai GOLKAR, PDIP dan PKB lebih sibuk mengurus dirinya dibanding mengangkat momen tersebut. Apalagi sekarang ketika PKS ikut terlibat aktif dalam May Day, ini sudah merupakan lompatan besar dalam visi partai tersebut.

Bagi para buruh / pekerja sendiri ketika suatu partai bisa mengapresiasi dan membantu perjuangan mereka menjadi tidak mustahil mereka akan memilih mereka di pemilu nantinya. Demikian sedikitnya advokasi dan macam-macam pembelaan lainnya dari partai besar yang lain terkesan tidak signifikan mewujudkan perjuangan mereka, sementara partai yang mengaku mengatasnamakan perjuangan mereka belum tumbuh besar.

Implikasi awal mungkin belum signifikan merubah tatanan, sebab kita masih menunggu komitmen PKS dan jajarannya ke depan. Tetapi jika sikap ini konsisten di masa mendatang alangkah manisnya. Bukti bisa dimulai dari konsistensi proses rekrutmen, kaderisasi dan karier di Partai yang makin terbuka. Dibanding mendikotomikan anak kandung/anak tiri dalam ideologi berpartai lebih baik mengedepankan meritisme.

Bukti juga bisa dimulai dengan mengedepankan dan memberi panutan nilai-nilai islami yang menyejukkan (cerminan Rahmatan lil Alamin).

Bukti juga bisa diwujudkan dalam konsistensi membela yang lemah seperti para buruh / pekerja, petani, nelayan, kaum miskin di kota dan desa. Sense of crisis yang besar ditunjukkan dengan sikap bersih dan bersahaja kiranya dilanjutkan dengan sikap selalu membela yang tertindas apapun golongan, agama, ideologi dan latar belakangnya.

Jika transformasi cara pandang partai bisa dilakukan segera dan menyeluruh didasari pemikiran-pemikiran diatas, jangan heran jika di 2009 nanti PKS akan membuat kejutan menjadi pemenang. Akhir kata Hidup Indonesia, Hidup Buruh dan terakhir bagi PKS, selamat Milad ke 10, 4 Mei 2008. semoga kita semua menjadi bangsa yang makin cerdas, adil-makmur dan dewasa.
(Aristoteles, Staff Redaksi Online)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: