Journalist : Idealisme Wartawan mencari Berita, Sebuah Tinjauan


Bagi banyak kalangan, diwawancarai atau dikejar wartawan adalah suatu pekerjaan yang kurang disenangi, cenderung menyebalkan. Tapi bagi wartawan sejati, berita memang harus “diburu”.

Dalam perburuan itu wartawan kadang harus mempertaruhkan segalanya; nurani, kehormatan, hujatan, cercaan, kemungkinan gugatan, ancaman bahkan nyawanya sendiri. Dan semua dikalahkan demi idealisme dasar kewartawanan itu sendiri, “Bahwa rakyat berhak mendapatkan segala informasi”.

Kadang wartawan harus memilih memberitakan suatu kasus atau tidak dilihat dari sisi nurani. Sebagai contoh Ketika Gencatan senjata belum ada di Aceh, banyak wartawan mengesampingkan sedikit nasionalismenya kepada NKRI tercinta hanya untuk mendapat sedikit info berimbang dari pihak yang menentang NKRI (GAM). Teman-teman infotainment bahkan dengan semboyan terkenal “good news is bad news” rela mengganggu ketentraman para pesohor selebritis demi mendapat info-info minor seputar kehidupan pribadi mereka.

Wartawan perang pun demikian. Dilema mungkin disebabkan lebih memilih merekam kejadian lebih dahulu daripada menolong korban yang sekarat. Bagi yang pernah menonton film Mel Gibson “We’re Soldier” pasti ingat dilema sang war journalist, memilih bertempur, menolong yang sekarat atau memotret tragedi itu sendiri.

Hendro Subroto (wartawan perang senior) menuturkan pengalamannya di konflik Timor Timur dahulu dalam “Eyewitness to Integration of East Timor”. Bagaimana dia memilih terus memfilmkan jalannya pertempuran, sambil berteriak-teriak meminta medik menolong tentara yang luka di dekatnya. Jim Morrison dari majalah Rolling Stone merasakan hal yang sama di kancah Vietnam, demikian pula Al Rockoff di konflik Kamboja (pembantaian oleh Khmer merah 1975).

Wartawan bukan hanya mempertaruhkan hal-hal seperti itu saja, bahkan nyawanya sekalipun. Baik itu di konflik bersenjata ataupun tidak. Udin wartawan Bernas, Yogya dibunuh di masa damai hanya karena liputan atau tulisannya berseberangan dengan penguasa setempat. Di masa perang di belahan dunia lain korban wartawan juga tak terkira banyaknya. Baik terkena peluru nyasar karena meliput jalan pertempuran, diculik, dijadikan sandera atau tebusan kebijakan dan lain-lain.

Nama-nama seperti David Pearl (terbunuh setelah lama diculik di Afghanistan), Robert Capa (terbunuh di Vietnam), Ersa Siregar (wartawan RCTI, terbunuh di Aceh), Ernie Pyle (terbunuh di Okinawa 1945), Larry Burrows (terbunuh di Vietnam) mungkin hanya beberapa saja contoh. Di Irak pasca pendudukan AS, konon 70 orang lebih  jurnalis sudah terbunuh (www.independent.co.uk). Mereka adalah sosok-sosok pemberani yang mengetahui sebenar-benarnya resiko setiap apa yang mereka lakukan.

Sosok-sosok pemberani… Keberanianlah yang membuat kita memutuskan terlibat meliput. Keberanian yang membuat kita terus meliput dan keberanian pula yang membuat kita tetap menerbitkan liputan itu. Walau resikonya berbeda-beda tapi tetap sebenarnya keberanian yang membuat kita tetap berkarya.

Keberanian berarti tetap berkarya di sela-sela keterbatasan media sekarang (gaji kecil tuntutan berlebih). Keberanian berarti memilih “kejujuran” berita daripada amplopan uang sogok. Keberanian berarti mendapat perlakuan kurang terhormat bahkan ancaman. Dan keberanian berarti terus maju meliput itu sendiri.

Sekarang, ketika kebebasan informasi sudah menjadi anugerah berkah reformasi dan demokratisasi, Pers dan wartawan menjadi sosok yang “ditakuti”. Banyak oknum teman kita memanfaatkan celah ini, dan kita semua ikut merasa dampaknya. Ya itulah ekses eforia reformasi dan demokratisasi sekarang. Adalah sebuah keberanian juga jika kita saling mengingatkan dan saling mencegah ekses itu berkembang luas.

Kita adalah pendekar-pendekar dengan segala keterbatasan kita. Kita adalah pendekar yang menjamin (assured) bahwa “Rakyat Banyak berhak atas Berita, Kejujuran Berita dan Keakuratan Berita”. Akhir kata coba kita lihat dan renungkan video rekaman dari Brad Will, reporter Indy Media Amerika. Dia yang merekam saat kematiannya sendiri ketika meliput pemberontakan petani miskin di Oaxaca, Meksiko 2006 (kadang sebegitu besar idealisme dan profesionalisme harus dibayar…dibayar dengan nyawa!). Selamat berjuang terus dalam meliput berita!!

4 Tanggapan

  1. Berita-berita sekarang semuanya terasa subjektif,,
    Pengaruh dari wartawan apa kebijakan redaksi ya?
    Sekompleks pribadi tiap-tiap wartawan, berita juga gitu,,

  2. idealisme wartawan yg anda tuliskan cuma saya dengar waktu masih kuliah. prateknya jauh berbeda.

    kadang wartawan suka mengatasnamakan hak atas informasi. pdhl, blm tentu jg masyarakat mau tahu info yg mereka beritakan. hehehe..

    apa sudah bangun, bung?

  3. Berarti berita di media mainstream secara framing tidak akan pernah netral ya?
    Sepertinya sudah saatnya mencari media alternatif lain, seperti blog mungkin.
    Minimal kita bisa kenal secara personal dengan “wartawannya”.

  4. Somehow i missed the point. Probably lost in translation🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Stylistic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: