MENGAPA OBAMA BISA MENANG ?


presidentobama

presidentobama


4 Nopember 2008 mungkin merupakan pemilu Amerika Serikat (AS) paling penting, menentukan dan paling berkesan bagi rakyatnya dan juga bagi dunia selama 80 tahun terakhir. Hasilnya sudah dapat kita ketahui, Barrack Obama Senator Negara bagian Illinois, seorang Demokrat mengalahkan Senator Arizona, John McCain yang Republik. Sebuah sejarah baru ditorehkan di Negara yang didominasi ras kulit putih (empat puluh tahun lalu tidak mungkin dibenak rakyat AS untuk membayangkannya saja). Apa yang menyebabkan hal ini terjadi ?

Bagaimana tidak berkesan ketika tingkat partisipasi pemilu adalah terbesar sepanjang 100 tahun terakhir (1908 terakhir tingkat partisipasi sebanyak ini, ketika kaum perempuan mulai boleh ikut memilih). Bagaimana tidak berarti ketika AS sebagai adidaya terancam krisis dua sisi yaitu krisis akibat politik unilateralisme yang berujung perang di Irak dan Afghanistan yang berkepanjangan di satu sisi, serta krisis ekonomi akibat beban utang perang dan pengendalian ekonomi yang amburadul di sisi lainnya.

Bagaimana bisa seorang senator kulit hitam (minoritas dengan hanya 30% populasi) dari Negara bagian Midwestern berlatar belakang keluarga brokenhome bisa demikian melejit, melambung mengalahkan seorang “Hillary Clinton” yang ternama, McCain yang gigih dan akhirnya menjadi presiden ? Tulisan ini mencoba untuk mengupas dengan suatu analisa yang semoga obyektif adanya.

Timing, Motivator, High Standard-Hard Worker, Warm but IT Minded


Timing (Waktu)

Waktu Obama hadir adalah saat yang tepat dan matang. Ketidaknyamanan penghidupan rakyat AS sudah merata. Mereka yang mengalami kemakmuran di jaman Bill Clinton yang “demokrat” dimana tingkat pengangguran dan kesejahteraan tertinggi sepanjang 1 dekade (1990-an) seketika itu juga lenyap di era 2 periode pemerintahan George Bush yang “republik”. Ini sangat penting sebab sebagai Negara demokrasi modern, indikator kesejahteraan adalah indikator terpenting.

Kedamaian pasca perang dingin yang mengemuka selama 1990-an juga seketika hilang dengan kebijakan hawkish “perang melawan terror” pasca 11 September 2001. Kebijakan yang membawa akibat perang di 2 mandala (Afghanistan dan Irak) yang walau telah meminta korban jiwa ribuan warganegara AS (terbesar sejak perang Vietnam), tetapi dengan hasil yang tidak signifikan, malah membuat menguatnya semangat anti AS di mana-mana.

Dan akhirnya Krisis Lembaga keuangan AS, yang menyebabkan guncangnya Bursa saham, bangkrutnya Perusahaan-perusahaan Pembiayaan terbesar AS. Suatu katastropik yang sempurna untuk mematangkan suatu pendapat umum untuk berubah.

Disaat itulah Obama hadir. Disaat kelas pekerja AS yang kecewa karena kesejahteraan dan harapan penghidupannya terampas. Disaat kelas menengah AS yang kecewa karena usaha-usahanya terlibas. Disaat banyak orangtua, kekasih, anak yang pedih kehilangan anggota keluarganya di medan perang yang terkesan berkepanjangan dan tak seperti berarti. Yah di saat itulah Obama hadir.

Saat itu belum matang ketika John Forbes Kerry melawan Bush Jr. di pemilu 2004. Saat dimana trauma ketakutan teror 11 September belum bisa hilang dimata rakyat AS. Saat dimana penderitaan masih bagi kelas pekerja, belum merata ke kelas menengah akibat krisis keuangan. Saat ketika perang di Irak baru 1 tahun berjalan dan belum tak terkendali arahnya seperti sekarang.

2008 akhir, ketika pemilu presiden dilaksanakan yang ada di mata kebanyakan rakyat AS hanya memilih presiden yang “bukan republik” karena dosa-dosanya presiden republik selama 2 periode (baca Presiden Bush Jr.) yang bertumpuk-tumpuk.

Motivator (Pemberi Semangat)

Tapi apa timing saja cukup. Bukankah partai demokrat AS awalnya masih punya seorang Hillary Clinton yang juga demikian piawai, cerdas, elegan dan … wanita? Kalau hanya itu andalan Obama jelas dia akan kalah jauh dalam konvensi demokrat memilih nominasi calon presidennya.

Disinilah kemenonjolan Obama pertama menjadi kunci. Senator Illinois ini adalah seorang penggerak, seorang pembisik harapan, seorang yang terlihat tulus dalam menyerukannya dan penggugah yang pandai serta cakap. Bukunya Audicity of Hope (2006) menjadi best seller dan menginspirasi banyak orang. Caranya berbicara membuat orang terpana dan tersemangati.

Itulah kekuatan terbesarnya. Kekuatan yang dibutuhkan rakyat AS yang selalu merasa besar (dan memang bangsa yang serba besar), ketika merasa gamang dan ragu akan kebesarannya dan memaknai kebesaran itu.

Motivasi yang disebarkannya menembus semua sekat : kelas, ras, keturunan, agama, kepentingan, gender, latar belakang dan tingkat pendidikan. Dia mungkin bagi sebagian dirasa belum membuktikan apa-apa tetapi telah memberikan apa-apa yaitu ya itu tadi … harapan.

High Standard – Hard Worker (Mutu Tinggi-Pekerja Keras)

Standar rekrutmen kepemimpinan di AS adalah meritokrasi. Sistem yang menjamin bahwa yang terbaiklah yang harus diberi kesempatan. Obama memiliki semua itu. Lulusan terbaik Harvard Law School (magna cum laude) dan senator yang termasuk termuda ketika diangkat. Suatu prestasi yang tidak main-main.

Tetapi standar tinggi di AS itu juga akan dituju-fokuskan bagi mereka yang bekerja keras sebab Riwayat Negara AS adalah riwayat kerja keras. Obama yang lulusan Harvard Law School melepaskan kesempatannya berkarier dengan gaji gede sebagai pengacara handal. Kesempatan itu dilepas hanya untuk menjadi seorang pekerja sosial (community worker) berpenghasilan rendah. Hari-hari kerasnya sebelum menjadi senator adalah riwayat peluh-keringat menyusuri jalan-jalan kumuh kota Chicago untuk melakukan pembinaan, pendampingan dan pembelaan warga.

Dalam hal ini tiada keraguan sedikitpun tentang bagaimana “hard working dan high standardnya” senator Obama.

Warm but IT Minded (Hangat tetapi Percaya Teknologi Informasi)

Pemilu AS 1960 adalah saat pertama ketika media televisi secara intensif digunakan kandidat presiden (John F. Kennedy) sebagai sarana kampanye dan menang. Sejak itu kampanye kepresidenan di AS tak lepas dari media ini. Media gelas yang masif dalam memberi informasi ke khalayak ini jika dimanfaatkan sangat mengagumkan dalam menarik minat massa sampai sekarang.

Sifatnya yang mendominasi bahkan bisa mendoktrin, membuatnya menjadi sarana kampanye yang efektif. Media televisi sampai sekarang pun masih merupakan media yang paling padat modal dan teknologi dari semua jenis media yang ada di muka bumi.

Tapi apa cukup berkampanye di media ini ketika dia ditengarai sarat manipulasi, sensor dan kepentingan golongan tertentu saja? Pasca 11 September 2001 aroma tuduhan ini ke media televisi sangatlah kuat akibat kebijakan “self censorship” perusahaan-perusahaan televisi di AS. Media cetak pun demikian, beritanya pasca 11 September menjadi sedikit tidak berimbang dan bias pula.

Akibatnya media televisi dan cetak terbukti gagal memberi sinyal peringatan dini yang cukup tentang kemungkinan akan berlarut-larutnya perang di Afghanistan dan Irak kepada khalayak. Dengan akibat yang sama juga media-media ini gagal juga memberi sinyal tentang “krisis kredit perumahan/property” yang mengakibatkan katastropi keuangan dan pembiayaan sebagai biang “krisis ekonomi global” akhir 2008 ini. Media-media ini pula yang gagal memprediksi akan terjadinya fluktuasi gila-gilaan harga bahan bakar dan pangan akhir 2007 yang hampir menjurus pemiskinan global. Kalangan kelas menengah dan terdidik langsung dilanda ketidak percayaan akan kedua media ini sebagai alat analisis kebijakan dan alat penyalur informasi.

Dalam hal ini media internet / IT muncul sebagai alternatif. Walau semua sadar bahwa hanya sebagian kecil saja info yang diterima dari internet adalah benar-benar terpercaya (bukan junkies, hoax, gimmick atau apapun yang negatif), hal ini tetap tidak menghalangi orang menggunakannya mencari informasi apapun. Terutama di AS dimana tingkat penggunaan internet sudah demikian tinggi (lebih dari 200 juta pengguna internet dari lebih 300 juta populasi).

Lha apa kaitannya semua paragraf-paragraf tadi dengan kemenangan Obama? Disinilah inovasi cerdas Barrack terungkap. Senator Obama dengan tim handal kampanyenya digawangi Duo David (David Axelrod dan David Plouffe) merancang desain, membuat standar prosedur dan melaksanakan bagaimana berkampanye di dunia IT secara cerdas dan efektif.

Barrak Obama membuat kampanye IT-nya secara hangat (warm) tanpa kehilangan sentuhan untuk memotivasi dan mempengaruhi banyak orang (sesuatu yang sangat dia pahami esensinya sebagai bekas community worker). E-mail sebagai anak kandung media IT dibuatnya menjadi demikian menyentuh sehingga seperti mendapat suatu surat ajakan dari teman saudara sendiri (penulis sendiri membuktikan dengan terus mendapat e-mail dari beliau dan timnya sampai hari pemilu 4 Nopember 2008, penulis.). Websitenya penuh inspirasi dan menggugah sehingga terkesan “well designed, well issued, dan well prepared”.

Mungkin sudah sejak tahun 2000 (Bush Jr. vs Al Gore) internet digunakan secara intensif sebagai media kampanye.. Mungkin pada pemilu 2004 calon independent Howard Dean sudah mulai mengejutkan dengan bagaimana cepat melejit popularitas akibat penggunaan intensif internet sebagai media kampanye. Tetapi belum ada penggunaan media internet sebagai sarana kampanye semassif, seintensif dan sehangat yang dilakukan Obama.

Penutup

Obama sudah terpilih sebagai presiden AS, Negara yang saat ini diakui atau tidak adalah adi daya tunggal dunia. Kiprahnya sedang kita tunggu dengan penuh harapan. Semua kebijakan yang dilakukan Amerika selalu berdampak global. Tantangan beliau demikian banyak dan berat. Harapan yang tertumpukan padanya juga demikian besar dan masih dengan besar kemungkinan tidak sanggup dilaksanakan. Dan bagaimana pengaruhnya kepada bangsa dan Negara kita Indonesia ?

Apakah dia akan mengedepankan dialog (baca multilateralisme) atau tindakan sepihak (unilateralisme) dalam mengatasi konflik internasional? Apakah beliau akan lebih memperhatikan Indonesia, berdialog dengan Islam, mundur dari Irak, lebih mengakomodasi Palestina, caranya mengelola Bail out (dana talangan milyaran dollar pemerintah AS untuk mengatasi gunjang-ganjing di Bursa Wall Street) bagaimana dan lain sebagainya pertanyaan ? Hanya Tuhan yang tahu jawabnya, sementara kita hanya bisa menunggu.

Bagaimanapun sejarah telah tertorehkan kembali. Sejarah bahwa bagaimanapun jeleknya sistem demokrasi, dia adalah suatu sistem baik yang selalu bisa membawa suatu kepastian….kepastian akan harapan… kepastian harapan akan adanya perubahan. Suatu pelajaran bagi kita yang akan berpemilu di 2009. Selamat Mr. Barrack Hussein Obama !

(Aristoteles Wirawan A, ST. Journalist Independent, tinggal di Mojosongo)

<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: