Golput, Sebuah Dosa atau Luapan Ekspresi Belaka ?


Fenomena teraktual dari banyak Pilkada (Pemilihan Kepala-Kepala Daerah) di Indonesia terakhir adalah rendahnya partisipasi pemilih. Di beberapa kasus rendahnya tingkat partisipasi tersebut membuat jika saja “Suara Kosong” tadi dihitung, dialah pemenang pemilihan tersebut. Banyak hal yang mendasari terjadinya fenomena tersebut, dan kita coba membahasnya.

Pertama adalah kebosanan masyarakat terhadap pilkada langsung secara umum. Bayangkan begitu ramainya dan begitu rumitnya persiapan dan begitu bingungnya masyarakat untuk memilih.

Kedua adalah tingkat kesejahteraan masyarakat tidak secara otomatis meningkat walau tingkat demokratisasi naik. Suatu hal yang ironis tetapi terbukti adanya. Kedua faktor diatas membuat tingkat fungsi rekrutmen lewat cara-cara demokratis (baca Pemilu) tidaklah menghasilkan calon-calon yang benar-benar peduli dengan nasib rakyat, tetapi hanya melihat ikut pemilu sebagai salah satu lahan “investasi belaka”. “Pencitraan diri” lebih dipilih para kontestan dibanding “Visi & misinya ”. apalagi karyanya.

Ketiga adalah faktor Parpol peserta Pemilu yang waktunya habis terbuang memperjuangkan “eksistensi dan interesnya” dibanding karya-karya pedulinya ke tingkat akar rumput masyarakat banyak. Partai lama habis waktunya dengan penetapan UU pemilu yang menguntungkan partainya. Sementara Partai baru habis waktunya memenuhi persyaratan verifikasi Parpol yang begitu berat.

Keempat adalah (dan ini yang terpenting) : terlalu banyak partai politik yang ikut dalam Pemilu 2009 nantinya. Hal ini bisa diibaratkan seseorang yang sudah terlalu kenyang perutnya tetapi masih ditawari begitu banyak makanan disekitarnya (gejala-gejala over inflated democracy). Masyarakat yang sudah punya kecenderungan untuk bingung memilih, menjadi makin kebingungan. Belum sempat menilai-menimbang yang satu masih ada yang lain lagi, lain lagi.

Golput Logis Terjadi dan Misi Suci Parpol

Penggambaran diatas mungkin bisa menjelaskan secara gamblang mengapa fenomena Golput makin diprediksi menggejala di Pemilu 2009. Rakyat bawah pemilih bukan saja memilih GOLPUT secara sadar sebagai pilihan tetapi juga karena bingung.

Kebingungan terjadi dimana-mana. Kebingungan bahwa pemilihan langsung tidak secara signifikan merubah nasib/kesejahteraan. Kebingungan melihat partai kebanyakan hanya bermain di ranah “kepentingan sesaat dan sempit” dibanding “kepentingan yang lebih luas”. Kebingungan memilih diantara begitu banyak pilihan.

Apa itu bisa disalahkan? Apa itu bisa dilarang? Apa itu bisa dianggap dosa? Ohh kalau kita kembali membahas hal itu maka kita berarti setback ke masa lalu yang ingin kita rubah bersama sekarang ! Apakah kita bisa menyalahkan kalau rakyat kebanyakan menjadi bingung ?

Disinilah sebenarnya Saatnya jika Parpol-parpol mau berjuang. Bagaimanapun Parpol-parpol semuanya seperti yang dicantumkan dalam AD/ART-nya masing-masing didasarkan pada sebuah tujuan dan niat yang luhur. Jika masing masing parpol kembali ke massa rakyat, merebut hati mereka secara sungguh-sungguh mungkin kebingungan memilih bisa ditekan. Itulah sebenarnya “Misi Suci” Parpol ; “Memenangkan Hati Rakyat”.

Inilah saat Parpol untuk berpikir, berbuat dan bertindak, bukannya menyesali mengapa gejala GOLPUT menjadi membesar, Bukannya mencoba untuk “melarangnya” apalagi membuat “fatwa-fatwa tertentu” untuk “kepentingan-kepentingan tertentu pula”. Bukan pula untuk menjadi alas an pembenar jika kinerjanya tidak dimaui rakyat. Dan semoga saja ketika semua parpol perduli dan serius terhadap hal ini, Rakyat kita bisa memilih yang terbaik. Memilih berdasarkan “akal sehat dan nuraninya”. (AWA)


Satu Tanggapan

  1. BANYAK PARTAI BIKIN BINGUNG

    Sudah menjadi pedoman hatiku, bahwa dalam pemilihan umum 2009 kita harus menentukan pilihan secara bijaksana. Tapi semua partai peserta pemilu, tiada kupandang tinggi, semua sama tak sapun mendapat keistimewaan.

    Karena bingung, aku membuat suatu undian. Di atas sekelumit kertas kutulis nama-nama partai. Akhirnya kertas itu kugulung sama serta kumasukkan dalam sebuah kotak kosong, yang kemudian kugoncang-goncangkan.

    Dengan mata terpejam kuambil sebuah diantara gulungan-gulungan kertas itu. Ketika gulungan itu sudah kukembangakan, kubuka mataku secara perlahan-lahan. Jantungku turut berdebar keras, Ketika salah seorang di antaranya memperoleh kemenangan.

    Ketahuailah… bahwa yang berhasil memperoleh kemenangan adalah……………………………

    inilah gambaran bimbang masyarakat, apa yang dijanjikan partai politik tak jua mencapai biduk kebahagiaan.

    sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: