HASIL PEMILU LEGISLATIF 2009, RAKYAT MASIH PANDANG PARTAI, BELUM NAMA


Solo, Korantarget

Sabtu (11 April), hasil Quick count KPU sudah mulai dihitung signifikan, menghasilkan hasil yang tidak jauh berbeda dari Quick Count lembaga-lembaga survey yang diumumkan sebelumnya.

Hasil KPU sementara menempatkan Partai Demokrat, PDIP, Partai GOLKAR, PKS, PAN, PKB, PPP, GERINDRA, HANURA dan PKPB sebagai 10 besar partai peraih suara terbanyak dengan masing-masing : 21,08%, 15,17%, 14,13%, 8,76%, 6,35%, 5,92%, 5,35%, 4,75%, 3,41% dan 1,55% (sumber: okezone.com).

Ini tidak berbeda jauh dari hasil Quick count LP3ES yang menempatkan 9 partai dengan urutan sama kecuali urutan 2 PARTAI GOLKAR, 3 PDIP dan urutan 10 diduduki oleh PBB bukan PKPB.

Apa yang bisa dijadikan kesimpulan dari hasil-hasil tersebut diatas ? Jika ditarik ada 4 kesimpulan penting dari hasil pemilu Legislatif 2009 tersebut :

  1. Orang bingung memilih sehingga cenderung memilih Partai ketimbang figur Calon legislatif.

  2. Tingkat keikut-sertaan yang menurun drastis (Golput meningkat tajam)

  3. Proses pelaksanaan yang amburadul secara massif

  4. Visi dan misi Partai atau Calegnya tidak terlalu diperhatikan rakyat pemilih

Orang Bingung Memilih

Bagaimana tidak bingung, jumlah partai peserta pemilu meningkat tajam. Kertas suara pemilu yang mencantumkan tanda gambar partai dan personal  calon-calon legislatifnya membuat orang bingung di bilik pemungutan suara.

Keputusan MK yang meniadakan nomor urut caleg sebagai penentu pendistribusian kursi di tingkat satu partai menyebabkan persaingan melebar. Persaingan bukan lagi terfokus antar partai tetapi juga antar sesama caleg dalam satu partai. Masyarakat dibuat bingung dengan semua atribut iklan caleg baik di pinggir jalan maupun media.

Persaingan antar caleg satu partai ini ditingkat tertentu sampai pada tahap saling menghancurkan dan merusak citra partai secara keseluruhan. Pemilih loyal akan cenderung memilih lambang partai jika dia tidak punya kedekatan khusus yang lebih kepada calegnya. Pemilih yang tadi sedikit bersimpati cenderung emoh memilih (Golput) menyaksikan konflik internal yang masif ini. Hasilnya partai yang terlalu mengandal figur calegnya cenderung  perolehan  suaranya menurun.

Golput Meningkat Tajam

Seperti dijelaskan diatas rakyat cenderung makin muak melihat perilaku elit caleg partai sehingga memilih Golput.Iklan caleg membuat sumpek hampir di seluruh pinggir-pinggir jalan di Indonesia.

Disisi lain kekisruhan DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang amburadul menyumbang suara hilang atau Golput sistemik yang cukup signifikan. Adanya orang yang masuk DPT tetapi sudah meninggal, masih dibawah umur, ganda, tidak tercatat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Belum lagi perubahan cara penandaan kertas suara dari mencoblos menjadi menandai dengan contreng atau tanda memakai alat tulis… kebingungan, kekagokan dan kegamangan menandai perasaan orang didalam bilik suara. Situasi ini menjadikan kertas suara menjadi tidak ditandai (Golput anyel/kesal) atau tanda ganda (Golput sistemik karena suara tidak sah) meningkat tajam sekali.

Proses Pemilu Amburadul Sistemik

Bagaimana tidak amburadul, payung hukum pelaksanaan tarik menarik antara KPU yang ngotot menggunakan UU Pemilu tahun 2008 dengan pemerintah yang coba mencari solusi dengan Perpu no 1/2009.

Itu saja sudah menimbulkan masalah mengenai bagaimana kriteria suara yang sah, apakah orang bisa ikut Pemilu walau tidak terdaftar di TPS tersebut dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan logistik pemilu? KPU, saking rumitnya kertas suara (sebabkan waktu desain dan produksi molor), gagal mendistribusikannya tepat waktu. Dibeberapa tempat bahkan distribusinya tertukar dengan yang lain.

Tapi anehnya dana operasional dan bahan pemilu legislatif 2009 ini demikian sensasional besarnya. Jadi kesan bahwa anggota KPU di 2009 ini jelas “kurang profesional”. Menyusun anggaran sendiri, menetapkan tenggat waktu produksi, distribusi logistik dan verifikasi DPT sendiri tetapi dilanggar sendiri.

Visi dan Misi Tidak Terlalu Diperhatikan

Ketika rakyat jenuh dengan semua Pilkada langsung, iklan caleg dan partai yang berseliweran serta banyaknya peserta pemilu, apakah rakyat sempat memperhatikan visi dan misi?

Apalagi penetapan suara terbanyak, disatu sisi merupakan Terobosan demokratis yang berani, tetapi disisi lain menyebabkan merebaknya Narsisitik yang masif dan memuakkan.

Hal-hal tadi yang melingkupi hati dan pikiran hampir semua pemilih di Indonesia (mungkin perkecualiannya hanya caleg, keluarga dan tim suksesnya saja). Struktural dan kader partai sama bingungnya, atau malah bisa memanfaatkan sesuatu untuk tawar-menawar jasa ke masing-masing caleg satu partai.

Kesimpulan

Dari 4 hal analisa diatas jelas pantaslah mengapa kenaikan Partai Demokrat meningkat drastis dibanding pemilu 2004, sementara itu perolehan yang lain cukup berkurang signifikan.

Maju dengan tidak mengedepankan caleg-calegnya tetapi figur sang dewan pembina (SBY yang presiden), lengkap dengan pesona, tebar pesona, program-program nyatanya dan tentu gizi serta amunisi yang cukup.

Infrastruktur partai? Lupakan infrastruktur partai, bukankah figur pemimpin-penguasa di Indonesia sudah terbukti beratus-ratus tahun merupakan magnet yang kuat bagi rakyatnya? Pemimpin-penguasa terbukti punya sumber daya diatas partai, struktural  dan kader partainya.

Banyak yang terkaget-kaget melihat hasil pemilu legislatif 2009, tetapi sebenarnya hasil ini kalau dicermati mempunyai benang merah penyebab yang bisa diramalkan sebelumnya.

Bukankah kerancuan yang sistemik, yang terasa tapi  tidak bisa dibuktikan pelakunya.Berlangsung massif, sistemik tetapi bisa dinalar siapa yang bisa memanfaatkannya?

Harapan kedepan bagi partai dan pemerintahan hasil pemilu presiden nanti, agar bisa mewujudkan keinginan rakyatnya. Bukan lagi sibuk tebar pesona tapi makin fokus.

Dan semoga pelajaran berharga ini disikapi partai-partai tersisa sebagai pelajaran untuk lebih menyentuh rakyat, konstituen, infrastruktur dan kadernya secara lebih tulus, terbuka dan berkelanjutan. Moga-moga bangsa Indonesia terselamatkan….

(Ars, dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: