Cara Terbaik Menghargai Gus Dur, sebuah Opini


Telah berpulang ke Rahmatullah Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke 4 pada tanggal 30 Desember 2009 yang lalu. Indonesia menangis, Indonesia tersentak. Sekali lagi kita diperlihatkan bahwa seorang tokoh akan terasa sangat-sangat berarti ketika Beliau sudah berpulang. Dan seperti kita maklum bersama ketokohan beliau memang sangat terasakan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana cara terbaik kita menghargai almarhum

Gus Dur itu orang besar kita semua pasti tahu. Gagasan-gagasan besarnya melintas jaman dan selalu aktual untuk kita semua. Kita kagum kepada beliau karena beliau berani mengungkapkan dan bersikap atas dasar gagasan-gagasan besar itu. Hal yang langka di tengah-tengah kita sekarang. Mungkin banyak yang mengatakan Gus Dur licin, Gus Dur penuh kepintaran, Gus Dur penuh siasat, tetapi juga semua pasti setuju dibalik itu semua Gus Dur punya sikap ! Dan sikapnya tersebut karena sering disalah artikan akhirnya mengorbankan dirinya sendiri.

Awal januari ini demikian deras tokoh-tokoh, ormas-ormas, parpol-parpol, facebookers yang mendukung pengangkatan beliau sebagai “Pahlawan Nasional”. Apakah itu cukup? Saya kira beliau yang gagasannya “mendunia” pastilah otomatis layak sebagai Pahlawan Nasional, tetapi cara-cara kita menghargai beliau yang terbaik jelas bukan-bukan hanya itu !

Humanisme, Demokrat, Egalitarian, Pluralisme, Anti Kezaliman, Keberpihakan pada yang Tertindas dan Minoritas itu adalah 6 hal menonjol Warisan atau Legacy beliau terhadap NKRI kita. Sebagai Alim Ulama terkemuka beliau sangat mengerti bahwa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika  bagi Indonesia adalah harga mati. Suatu yang jarang didengungkan oleh pemimpin umat satu dasa warsa terakhir, bahkan oleh tokoh-tokoh moderat sekalipun. Dia berani berbuat untuk semua hal yang diyakininya itu terlebih ketika wewenang ada padanya.

Apakah kita sanggup berbuat hal yang sama ketika kita di posisi tersebut? Lihat ketika humanisme hakim dan jaksa menjatuhkan vonis berat pada seorang pencuri kelas teri sebaliknya vonis ringan kepada pencuri kelas kakap. Humanisme apakah itu? Lihat ketika demokrasi hanyalah sebuah mekanis- prosedural menggantikan esensi demokrasi itu sendiri.Benar demokrasikah itu? Lihat ketika egaliterian hanya sebagai pemanis  kekuasaan wewenang yang palsu. Egaliter jenis apa itu? Lihat ketika pluralisme dianggap barang tabu, sementara menginjak-injak itu atas nama agama tertentu di puja dan diumbar. Itulah kesanggupan-kesanggupan kita di saat-saat ini !!

Mungkin kerisauan-kerisauan ini menjadi berlebihan ketika pemilu kita berhasil menghasilkan seorang pemimpin secara demokratis… Tetapi tantangan-tantangan yang digambarkan kerisauan-kerisauan tersebut siapa yang berani membantahnya? Kalau kita benar-benar menghargai Beliau, maka kita harus sanggup mendobrak itu semua.

Kita harus sanggup menyatakan “tidak” untuk kepicikan-kepicikan itu semua. dan kita harus sanggup kembali menyemaikan benih-benih persaudaraan diantara kita semua. Karena itulah cara terbaik menghargai beliau lebih dari sekedar sebuah gelar kepahlawanan semata. Sebab gagasan-gagasan beliau sangat layak diperjuangkan seperti gagasan-gagasan Almarhum Soekarno, Hatta, Syahrir, Romo Mangun dan Nurcholis Majid. Selamat jalan Gus Dur, Berkatilah Tuhan agar kami sanggup menjaga gagasan-gagasan terbaik itu…..

(Awa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: